spot_img

Top 5 This Week

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Makanan Ini Bisa Tingkatkan Resiko Autis Pada Anak

Sebuah penelitian terbaru kembali memunculkan diskusi tentang hubungan antara pola makan dan risiko autism spectrum disorder (ASD).

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Nutrition menemukan bahwa konsumsi makanan tertentu, khususnya yang mengandung gluten dan protein susu (casein), diduga berkaitan dengan peningkatan risiko autisme. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti autisme dapat dicegah atau disembuhkan hanya dengan mengubah pola makan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis hubungan antara kecenderungan genetik seseorang terhadap pilihan makanan dengan risiko ASD.

Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan predisposisi genetik untuk mengonsumsi makanan tinggi gluten, seperti pasta gandum utuh, serta produk susu tertentu seperti olesan keju, memiliki keterkaitan dengan jalur imun yang juga berhubungan dengan autisme. Jalur ini diyakini memengaruhi respons peradangan dalam tubuh, yang selama ini sering dikaitkan dengan gangguan perkembangan saraf.

Menariknya, penelitian yang sama juga menemukan bahwa kecenderungan konsumsi pisang justru dikaitkan dengan risiko ASD yang lebih rendah. Para peneliti menduga hal ini bukan semata karena pisang sebagai satu jenis makanan, melainkan sebagai indikator pola makan yang lebih seimbang dan berkualitas, yang dapat mendukung kesehatan sistem imun secara keseluruhan.

Meski banyak keluarga dengan anak autisme mencoba diet bebas gluten dan bebas casein, studi ini menegaskan bahwa perubahan pola makan tersebut tidak menunjukkan perbaikan signifikan pada gejala inti autisme. Diet tersebut memang ditemukan dapat memengaruhi kadar antibodi tertentu dalam tubuh, namun efeknya tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai terapi utama bagi ASD.

Para ahli menekankan bahwa autisme merupakan kondisi perkembangan neurologis yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan. Tidak ada satu jenis makanan atau pola diet tertentu yang secara langsung menyebabkan atau menyembuhkan autisme.

Oleh karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya dipahami sebagai temuan awal yang membuka peluang riset lanjutan, bukan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan mutlak.

Peneliti juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung melakukan perubahan diet ekstrem, terutama pada anak-anak, tanpa pendampingan tenaga medis atau ahli gizi. Studi lanjutan dengan skala yang lebih besar dan populasi yang lebih beragam masih dibutuhkan untuk memastikan sejauh mana peran pola makan terhadap risiko autisme di masa depan.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles