Penyanyi Meisita Lomania membagi kisah mengejutkan tentang masa lalunya yang kelam. Pelantun lagu ‘Kekasih Tak Dianggap’ ini mengungkap trauma mendalam akibat pelecehan seksual. Pengalaman pahit tersebut ia sampaikan dalam program Rumpi Trans TV yang dipandu Feni Rose baru-baru ini.
Meisita mengaku pernah mengalami percobaan rudapaksa saat masih duduk di bangku sekolah. Kejadian memilukan itu membekas kuat dalam ingatannya hingga berpuluh-puluh tahun. Ia merasakan dampak psikologis yang luar biasa besar akibat peristiwa traumatis tersebut.
Tak hanya sekali, ia mengalaami percobaan rudapaksa hingga dua kali. Yakni saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Bagi Meisita, proses menyembuhkan luka batin bukanlah perkara mudah untuk dilakukan. Ia merasa memaafkan pelaku mungkin bisa saja terjadi dalam perjalanan hidupnya. Namun, melupakan detail kejadian dan membangun rasa percaya kembali adalah tantangan berat.
“Aduh trauma itu tuh sebenarnya tuh gimana ya, kayaknya sembuh tuh susah ya. Kita tuh bisa memaafkan tapi kita tidak bisa melupakan, tidak bisa melupakan dan tidak punya rasa percaya lagi. Itu yang susah,” kata dia membuka cerita.
Gadis kelahiran 1989 ini menceritakan bahwa pelecehan tersebut terjadi beberapa kali. Ia mengalami kejadian tidak menyenangkan itu saat masih SD dan SMP. Bahkan, Meisita hampir menjadi korban rudapaksa oleh sekelompok orang di lingkungan sekolah.
Ingatan Meisita sempat tertutup rapat selama tiga dekade karena mekanisme pertahanan diri. Namun, dokumentasi kasus hukum yang viral di internet mendadak memicu memorinya kembali. Ia tiba-tiba mengingat wajah sang pelaku dengan sangat jelas dan detail.
“Yang memicu itu gara-gara kan sekarang sedang ramai Epstein Files itu. Selama 30 tahun aku udah lupa, jadi ke-trigger lagi. Aku jadi ingat kejadiannya. Kayak di sebuah tempat sempit, pokoknya nggak menyenangkan. Sekarang orangnya sudah meninggal,” kenang Meisita.
Pemicu tersebut membuat kondisi fisik sang kreator konten ini menurun drastis secara tiba-tiba. Tubuhnya gemetar hebat dan ia sempat kehilangan kendali atas motorik tangannya. Kenangan pahit itu berputar kembali dalam benaknya seperti sebuah film lama.
“Aku sempat tangan aku tuh gemeter gini tapi enggak bisa dikontrol. Kayak enggak bisa ngapa-ngapain karena keputar gitu aja,” ia menjelaskan.
Latar belakang keluarga yang kurang harmonis membuat Meisita kecil memilih untuk bungkam. Ia tidak mampu mengomunikasikan kepedihan tersebut kepada orang tua atau orang terdekat. Kini, ia menyadari betapa pentingnya edukasi seksual sejak dini bagi anak-anak.
Meski bayang-bayang masa lalu menghantuinya, Meisita menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia memiliki filosofi hidup yang sangat kuat untuk terus melangkah maju. “Buat orang, hidup itu sekali. Buat aku, hidup itu berkali-kali, hanya mati yang sekali. Jadi setiap hari adalah kesempatan untuk memulai babak kehidupan yang baru,” tutup dia.
Berikut petikan wawancara Meisita saat menjadi bintang tamu di program Rumpi Trans TV





