spot_img

Top 5 This Week

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Keracunan dan Alergi Makanan Ternyata Berbeda, IDAI Ungkap Cara Membedakannya

Keracunan dan alergi makanan merupakan dua kondisi berbeda yang masih sering tercampur dalam praktik maupun pemberitaan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan perbedaan keduanya dalam diskusi media di Jakarta, Jumat.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), mengatakan keracunan dapat menyerang siapa saja yang mengonsumsi makanan tercemar. Sebaliknya, alergi hanya menyerang individu dengan sensitivitas terhadap protein tertentu dalam makanan.

“Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak,” kata Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K) dalam diskusi media di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (11/09).

Menurut Yogi, keracunan makanan muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau air yang tercemar bakteri, racun, virus, parasit, atau bahan kimia. Gejalanya meliputi mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, hingga terkadang pusing. Selain itu, gejala dapat muncul beberapa jam hingga satu atau dua hari setelah seseorang mengonsumsi makanan tersebut.

Gejala Alergi Bisa Muncul Lebih Cepat

Berbeda dengan keracunan, alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein tertentu dalam makanan. Karena itu, hanya individu yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut yang mengalami gejala.

Dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu, gejala alergi dapat muncul. Tanda alergi antara lain rasa gatal, bengkak pada bibir atau kelopak mata, biduran, sesak napas, hingga penurunan kesadaran.

Anak dan Remaja Lebih Rentan Mengalami Keracunan

Dokter lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan alasan anak dan remaja lebih rentan mengalami keracunan. Mereka memiliki cadangan cairan tubuh yang lebih kecil. Oleh karena itu, kehilangan cairan dalam jumlah sama dapat memberikan dampak lebih besar terhadap kesehatan mereka.

Selain itu, sistem imun dan saluran cerna anak belum matang sepenuhnya. Kondisi tersebut membuat jumlah kuman yang dibutuhkan untuk menimbulkan penyakit menjadi lebih sedikit.

Di sisi lain, anak dan remaja lebih sering makan di luar pengawasan keluarga. Mereka dapat membeli makanan di kantin atau jajanan di pinggir jalan.

Anak kecil yang belum mampu melaporkan gejala dengan baik juga membutuhkan perhatian lebih. Orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku karena anak dapat menjadi lebih pendiam dan tampak lemas.

Mengutip data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan milik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2024, sebanyak 806 dari 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia berasal dari makanan dan minuman. Yogi juga menyebut 42,96 persen kasus dalam data tersebut terjadi pada kelompok usia remaja 12 sampai 25 tahun.

Dengan demikian, masyarakat perlu mengenali perbedaan keracunan dan alergi makanan berdasarkan penyebab, pola kejadian, serta waktu munculnya gejala. Pemahaman ini penting agar orang tua dapat mengenali kondisi anak dengan lebih tepat dan mengambil langkah yang sesuai.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles