Prilly Latuconsina marah sekaligus kecewa kala melihat video warga negara asing atau WNA diduga (maaf) menusuk penyu saat menyelam di Raja Ampat, Papua. Publik mengecam video viral tersebut.
Kekecewaan Prilly Latuconsina menggunung kala mendengar kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan tak kunjung padam. Bintang film Danur tak habis pikir kenapa manusia sampai hati membakar hutan dan sok berkuasa di laut hingga bertindak seenak jidat terhadap keragaman hayati Indonesia.
“Lagi nangis kepikiran binatang-binatang yang mati kebakar di Kalimantan. Anak-anak satwa yang dievakuasi tapi rumahnya sudah enggak ada. Terus barusan lihat diver asing ngeb***h penyu di Raja Ampat,” Prilly Latuconsina menulis via akun Threads pada Senin, 14 September 2026.
Sebuah pertanyaan menggenang di benaknya, yakni mengapa manusia bisa sejahat itu terhadap makhluk yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri?
“Kita bukan satu-satunya yang hidup di bumi ini. Kita cuma berbagi rumah. Harusnya karena kita punya akal dan kuasa lebih, kita yang paling bisa menjaga. Bukan malah jadi yang paling banyak merusak,” Prilly Latuconsina menambahkan.
Ia lalu mendorong sektor pariwisata Indonesia agar bisa menerapkan aturan lebih ketat dan konsisten, khususnya kawasan konservasi sebagai rumah bagi banyak spesies kunci.
Menghormati Tempat
Ini bukan soal turis lokal atau asing. Bagi Prilly Latuconsina, ini soal menghormati tempat. Apalagi di kawasan konservasi, manusia jangan sampai mengganggu spesies kunci dan terumbu karang. Menyentuh pun seharusnya tidak boleh.
“Apalagi mengambil, melukai atau membunuhnya. Untuk aktivitas seperti diving, menurutku pendataan, pengecekan lisensi, briefing aturan, sampai pengawasan perlu benar-benar dijalankan,” Prilly Latuconsina menyambung.
“Bukan untuk mempersulit wisatawan, tapi supaya setiap orang yang masuk ke ekosistem rentan tahu batasannya dan bisa dimintai pertanggungjawaban kalau melanggar,” bintang sinetron Ganteng-ganteng Serigala membeberkan.
Menindak Pelaku Pelanggaran
Prilly Latuconsina berpendapat, jika aturan hanya ada di atas kertas tapi aparat tak melacak dan menindak pelaku pelanggaran, pada akhirnya yang membayar harga adalah alam kita sendiri.
Lebih lanjut lewat utas dalam Threads, Prilly Latuconsina mengingatkan, manusia punya akal budi dan hati nurani. Mestinya, mereka menjalin hubungan harmonis dengan alam. Bukan menjadi penguasa yang zalim dan sewenang-wenang.
“Ingat, kita datang ke alam sebagai tamu, bukan penguasa. Jangan sentuh, jangan ambil, jangan sakiti. Kalau kita diberi kesempatan menikmati keindahannya, kita punya kewajiban untuk menjaganya,” pungkas Prilly Latuconsina.
Kabar terbaru menyebut, aparat telah mengamankan WNA yang bersangkutan. Ia lantas mengklarifikasi dan meminta maaf kepada masyarakat Indonesia. Ia juga membantah tudingan membunuh penyu.






