Proses penuaan alami kerap menurunkan massa jaringan tubuh sehingga masyarakat perlu menjaga kesehatan otot lansia secara optimal. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri dari RS Kariadi, dr. Khairunnisa Ayu K., Sp.PD, Subsp.Ger(K), FINASIM, menegaskan pentingnya mempertahankan kekuatan fisik tersebut demi kemandirian hidup.
Penurunan massa otot yang terabaikan dapat memicu kesulitan besar bagi warga senior dalam menjalankan rutinitas harian secara mandiri. Pasalnya, kombinasi asupan nutrisi berkualitas dan latihan jasmani terukur menjadi fondasi utama dalam merawat kebugaran jasmani lansia.
Kebutuhan zat gizi makro seperti protein memegang peranan krusial untuk memperbaiki jaringan serta memperlambat penyusutan otot pada usia lanjut. Namun, dokter geriatri tidak bisa menyamaratakan porsi konsumsi setiap individu karena riwayat penyakit dan fungsi organ mereka berbeda-beda.
Urgensi Menjaga Kesehatan Otot Lansia Melalui Nutrisi
Ahli medis lulusan subspesialis geriatri tersebut mengingatkan bahwa pengelolaan nutrisi harus berjalan beriringan dengan kemampuan fisik masing-masing pasien. Oleh karena itu, keluarga pendamping wajib mencermati asupan harian tanpa memaksakan porsi di luar batas kemampuan tubuh warga senior.
“Untuk menjaga otot itu tentunya dari nutrisi, terutama protein, dan juga aktivitas fisik,” ujar dr. Nisa dalam talkshow Keluarga Sehat Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan, dikutip Minggu (26/9/2026).
Pakar kesehatan lansia ini turut menyoroti kesehatan rongga mulut dan gigi palsu yang sering menghambat lansia mengunyah makanan berprotein. Selain itu, keluarga sebaiknya menyesuaikan tekstur makanan serta tetap mengutamakan hidangan utuh daripada sekadar mengandalkan susu formula.
Aktivitas fisik teratur turut memegang peranan penting guna menjaga fleksibilitas dan ketahanan sistem motorik warga senior. Sementara itu, latihan fisik yang tepat terbukti efektif mencegah risiko kerapuhan tulang serta menjaga koordinasi gerak tubuh harian.
Menghindari Risiko Kerapuhan Fisik Sedini Mungkin
Penurunan massa otot yang parah berisiko merenggut kemandirian warga senior hingga menimbulkan ketergantungan total pada perawat. Di sisi lain, penanganan pencegahan atrofi otot harus berlangsung jauh sebelum kondisi kelemahan fisik memburuk.
“Prinsipnya adalah kita pertahankan fungsi yang baik sejak sedini mungkin. Jadi mulai sekarang. Jangan nunggu sampai sakit,” kata dr. Nisa.
Pendekatan medis geriatri selalu memprioritaskan pemeriksaan menyeluruh terhadap status fungsional tubuh secara terintegrasi. Alhasil, dokter spesialis tidak hanya mengobati satu jenis penyakit, melainkan turut mengevaluasi fungsi kognitif, kondisi emosional, serta konsumsi obat harian pasien.
Strategi Evaluasi Holistik Kesehatan Warga Senior
Warga senior kerap mengidap beberapa penyakit degeneratif sekaligus sehingga membutuhkan terapi komprehensif dari tim medis. Selanjutnya, penyesuaian jenis olahraga serta dosis obat harus mempertimbangkan kondisi menyeluruh agar tidak membebani fungsi organ vital.
Keluarga bersama tenaga kesehatan kini terus menggalakkan program menjaga kesehatan otot lansia lewat pemantauan nutrisi seimbang dan rutinitas gerak aktif. Langkah terpadu ini membantu kelompok lanjut usia mempertahankan mobilitas mereka serta menikmati kualitas hidup yang bermartabat.






