Suzzanna Martha Frederika van Osch meninggal dunia pada 15 Oktober 2008. Sepuluh tahun kemudian, Ratu Horor Indonesia itu “menitis” ke Luna Maya lewat film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur disusul Malam Jumat Kliwon, dan tahun ini, Santet Dosa di Atas Dosa.
Santet Dosa di Atas Dosa menandai kali pertama Luna Maya tidak menjadi setan dalam jagat sinema Suzzanna. Memerankan setan atau tidak, benang merahnya tetap sama: dendam terhadap oknum atau kondisi hidup yang tidak ideal.
Dalam film karya sineas Azhar Kinoi Lubis ini, tragedi menimpa Suzzanna (Luna Maya) kala suatu malam, santet Samber Nyowo berwujud bola api terbang, lalu mendarat di belakang rumahnya. Kucing peliharaan Suzzanna tewas.
Ayahnya, Satrio (El Manik) mendadak terjaga tengah malam, kepanasan, hingga kabur ke kamar mandi untuk membilas diri. Bersamaan dengan itu, seluruh tubuhnya melepuh. Dalam hitungan menit, Satrio yang berprofesi sebagai guru, tewas bersimbah darah.
Suzzanna dan Hari-Hari Kelam
Sejak itu, hari-hari Suzzanna makin kelam. Ia menjadi saksi terbunuhnya Suroh (Nunung). Suroh adalah istri Bisman (Clift Sangra), pengusaha yang terobsesi jadi kepala desa Karang Setan. Bisman juga berambisi menikahi Suzzanna. Celakanya, anak buah Bisman, Banteng (Budi Bima), tidak sengaja membunuh Suroh saat bertakziah ke rumah Satrio.
Tak lama setelah insiden ini, Suzzanna dikejar anak buah Bisman hingga jatuh ke sungai. Pramuja (Reza Rahadian) menolongnya. Suzzanna lalu belajar santet dari Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu). Tujuannya jelas: balas dendam.
Esensi film horor klasik Suzzanna tetap sama, yakni perempuan yang merawat dendam lalu menuntut keadilan sampai ke liang lahad. Suketi (Malam Satu Suro) dan Alisa (Sundel Bolong) menjadi setan kemudian membantai orang-orang yang mengusik kebahagiaan keluarganya.
Murni (Ratu Ilmu Hitam) dan Katemi (Santet: Ilmu Pelebur Nyawa) contoh ikonis bagaimana perempuan tersesat di jalan dendam. Santet: Dosa di Atas Dosa adalah ulang buat dari Santet: Ilmu Pelebur Nyawa (1989).
Namun, jika dicermati, beberapa elemen film ini justru mengajak penonton napak tilas ke dunia Ajian Ratu Laut Kidul (1991). Konflik politik di lingkungan desa antara Satrio dan Bisman mengingatkan kita pada perang dingin Bu Lurah Lestari (Suzzanna) dan Angkoro (Johny Indo).
Adegan Lestari memakai lulur kunyit lalu sekujur tubuhnya melepuh adalah “cetak biru” untuk adegan Satrio menjelang ajal. Di kamar mandi, tubuh Satrio melepuh lalu meledak. Nyawanya melayang.
Sebelumnya, desa Karang Setan adalah medan politik orang-orang zalim yang bersinggungan dengan judi, pelacuran, dan mencaplok tanah kaum jelata. Pergerakan muncul saat kesabaran warga tiba di ambang batas dan Satrio didapuk sebagai ikon perlawanan.
Alasannya terwakili oleh mulut warga yang berujar, “Karena hanya Pak Satrio yang berani melawan anak buah Bisman. Kalau waktu itu Pak Satrio tidak muncul, mungkin saya sudah mati.” Sementara kepada Suzzanna, Satrio menasihati, “Melawan kezaliman itu wajib hukumnya.”
Dari Dunia Hingga Akhirat
Dalam genre horor, rasa keadilan diperjuangkan dalam banyak cara dari dunia hingga akhirat. Sundel Bolong, manifestasi urusan dunia yang belum selesai. Karenanya, arwah penasaran sampai harus “turun tangan” untuk membereskan dendam. Tanpa setan, santet jadi senjata untuk memperjuangkan keadilan.
Baik sundel bolong maupun santet, merupakan momen transformasi karakter perempuan yang semula korban, menjadi sosok dengan power. Inilah peran ganda yang dirujuk A Priyatna (2004) dalam esai Abjek dan Monstrous Feminine: Kisah Rahim, Liur, Tawa, dan Pembalut.
Perempuan dalam film horor sering dicitrakan secara paradoks sebagai pihak tertindas atau korban kekerasan, sekaligus berubah menjadi sosok menakutkan. Polanya klasik. Protagonis wanita menjadi korban, lalu bangkit kembali sebagai hantu atau kekuatan supranatural untuk menggugat rasa keadilan.
Formula ini sudah ada di industri film Indonesia dari era Generasi Bunga, berlanjut ke dekade 1980-an, lalu dibumbui adegan seks pada 1990-an. Fotokopi rumus tersebut muncul lagi pada tahun 2000-an dalam format ulang buat. Menjadi relevan, karena dendam seperti halnya cinta, adalah tema jadul yang selalu dekat dengan keseharian audiens.
Alfred Adler melalui Teori Psikologi Individual (Adlerian) membedah pola balas dendam. Rasa ini muncul ketika seseorang mengalami inferiority complex akibat luka masa lalu atau dinamika keluarga. Dendam yang dirawat membuat seseorang mencari superioritas semu dengan menyakiti orang lain atas nama mengupayakan rasa adil.
Dengan kata lain, dendam dijadikan cara psikologis untuk merebut kendali lalu membuat pelaku merasakan derita yang sama. Di sini, batas antara pleasure (kepuasan) dan pain (luka derita) setipis kulit bawang.
Yang patut dicatat dalam film horor berbasis arwah penasaran maupun santet, transformasi perempuan dari protagonis lemah menjadi “monster” bukan tanpa konsekuensi. Merujuk pada efek Pleasure-Pain yang berakar pada teori Sigmund Freud, manusia sering memilih kepuasan instan meski tahu hal itu bisa membawa rasa sakit jangka panjang.
Dua Sisi Perempuan Yang Kontras
Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa dan sejumlah film bertema santet lainnya menajamkan dua sisi perempuan yang kontras, lengkap dengan dampak jangka panjangnya. Suzzanna (Luna Maya) nekat belajar Santet Pring Sedapur. Ini jenis santet yang tak hanya menghabisi pelaku kejahatan, tapi juga keturunannya.
Apesnya, pria yang dicintai Suzzanna ternyata keturunan Bisman. Padahal, Santet Pring Sedapur tak bisa dibatalkan. Jika nekat dibatalkan, ia akan berbalik ke pengirim. Lalu, kita tahu bagaimana film ini berakhir.
Contoh lain dari tahun rilis yang sama, film Paket Santet (Dinna Jasanti, 2026). Ceritanya bergulir dari cewek korban perundungan. Bangkit dari rasa sakit, ia memegang kendali dengan menghabisi satu per satu pelaku. Kepuasan yang didapat dari menuntut balas malah kebablasan.
Menjelang babak akhir, Bella (Yasamin Jasem) kehilangan kendali dan menanggung efek jangka panjang. Akhir semacam ini menggarisbawahi pakem bahwa dalam balas dendam tak ada kemenangan abadi.
Seperti peribahasa: menang jadi arang, kalah jadi abu. Inilah kondisi pihak yang menang maupun kalah sama-sama hancur. Arang dan abu hasil akhir proses pembakaran. Bedanya, arang masih berbentuk dan punya struktur keras. Sementara abu, telah lebur sepenuhnya.
Peribahasa ini menjadi pengingat bahwa tak ada yang menang dalam pertikaian berbasis dendam. Kemenangan Suzzanna dalam Santet Dosa di Atas Dosa adalah maya. Begitu pula Bella dalam film Paket Santet.
Pun, kita melihat sejumlah film Suzzanna sebagai sundel bolong tampak tak berdaya di akhir kisah. Para penjahat memang telah dibantai, tapi bukan berarti sundel bolong menang 100 persen.
Sebaliknya, kekalahan terbesar ada pada sundel bolong yang terjebak di alam manusia. Bahkan untuk kembali ke alam baka, ia butuh bantuan pemuka agama yang melantun ayat-ayat. Lalu, sundel bolong perlahan sirna. Film selesai. Penonton lega.
Waspadai Titik Jenuh Penonton
Yang patut diwaspadai dari formula klasik bernama ulang buat ini, adalah titik jenuh para penonton. Grafiknya mulai bicara. Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018) menjaring 3,3 jutaan penonton. Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) membawa lebih dari 2,1 juta penonton ke bioskop. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026) harus puas dengan 1,5 jutaan penonton.
Tampaknya, “iming-iming” menunggangi mesin waktu untuk berjumpa Bunda Suzzanna atau kampanye penghormatan terhadap Ratu Horor Indonesia saja tak cukup. Perlu ada penghormatan dalam bentuk lain. Misalnya, mengembangkan cerita baru dengan Suzzanna sebagai porosnya, lepas sejenak dari bayang-bayang santet dan lelembut.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, harus diakui, Luna Maya berhasil menjembatani Gen Z atau generasi kekinian untuk mengenal lebih dekat Suzzanna, salah satu ikon sinema Indonesia. Tak berlebihan jika Suzzanna disebut ikon.
Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail pernah menggambarkan Suzzanna lewat artikel bertajuk “Bintang Tidak Dilahirkan Tapi Ditempa Oleh Sang Sutradara, Maka Lahirlah Suzanna.”
Dalam catatan Harian Berita Yudha edisi Sport dan Film rilisan 16 Februari 1974, disebutkan Suzzanna sekali syuting dapat honor bombastis Rp5 juta. Padahal budget produksi film lokal kala itu di kisaran Rp25 juta sampai Rp35 juta.
Ya, Suzzanna sefenomenal dan selegendaris itu. Maka, biarlah Suzzanna menjadi Suzzanna. Percayalah, Luna Maya akan menemukan “bentuk” baru Suzzanna dalam cerita yang lebih segar sekaligus relevan di masa mendatang.
Pemain: Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, Djenar Maesa Ayu, Restu Triandy, Iwa K, Budi Bima, El Manik, Yatti Surachman
Produser: Sunil Soraya
Sutradara: Azhar Kinoi Lubis
Penulis: Ferry Lesmana, Jujur Prananto, Sunil Soraya
Produksi: Soraya Intercine Films
Durasi: 2 jam, 15 menit






