spot_img

Top 5 This Week

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Nyeri Perut Berulang Usai Operasi? Kenali Risiko Perlengketan Usus

Tindakan operasi di area rongga perut berisiko memicu terbentuknya jaringan parut yang merekatkan saluran pencernaan ke organ sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan perlengketan usus memerlukan tindakan medis yang sangat cermat guna mencegah komplikasi fatal.

Kondisi adhesi atau jaringan parut tersebut juga kerap timbul akibat infeksi parah maupun peradangan di dalam rongga tubuh. Pasalnya, peradangan jaringan memicu respon alami tubuh yang justru membuat lapisan usus saling menempel erat.

Dokter spesialis bedah digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD membagikan wawasan klinis terkait fenomena pascaoperasi ini. Selain itu, sang dokter menegaskan bahwa kondisi setiap pasien selalu menunjukkan variasi tingkat keparahan yang berbeda.

“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut,” kata dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD.

Deteksi Gejala dan Penanganan Perlengketan Usus

Banyak pasien pascaoperasi tidak menyadari kemunculan adhesi karena sebagian kasus tidak langsung memperlihatkan keluhan berat. Namun, sebagian penderita mengeluhkan rasa nyeri perut kambuhan, kembung berlebih, hingga gangguan pergerakan saluran cerna.

“Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing,” ujar dr. Eko.

Pemeriksaan fisik dan investigasi medis lanjutan menjadi langkah wajib untuk melacak akar penyebab keluhan perut tersebut. Alhasil, dokter bedah dapat memutuskan opsi terapi terbaik atau melepaskan jaringan yang melekat secara aman.

Komplikasi Serius Melibatkan Saluran Kemih Pasien

Tingkat kesulitan penanganan medis melonjak tajam apabila jaringan parut meluas hingga menjepit ureter atau saluran urine dari ginjal. Di sisi lain, keterlibatan organ ekskresi ini menuntut keahlian dokter spesialis urologi rekonstruksi untuk memperbaiki fungsinya.

Pakar urologi konsultan trauma dan rekonstruksi urogenital dr. Donny Eka Putra, Sp.U.(K) menekankan pentingnya pendekatan holistis dalam kasus rumit ini. Sementara itu, tim dokter wajib memetakan relasi antar-organ sebelum memutuskan tindakan bedah.

“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar-organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” tegas dr. Donny Eka Putra.

Kolaborasi Multidisiplin demi Keselamatan Pasien

Pihak rumah sakit modern menerapkan kolaborasi terpadu antara ahli digestif dan spesialis urologi guna meminimalkan risiko operasi. Selanjutnya, evaluasi riwayat bedah terdahulu dan pemeriksaan penunjang menjadi dasar penentuan rencana operasi.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso, MARS turut menggarisbawahi komitmen rumah sakit dalam menyediakan penanganan lintas disiplin. Pasalnya, pemulihan sejati seorang pasien hanya bisa tercapai melalui pemahaman klinis yang komprehensif.

“Pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh,” pungkas dr. Margareth Aryani Santoso.

Keputusan tindakan pembedahan selalu mempertimbangkan rasio manfaat medis serta profil keselamatan fisik penderita secara mendalam. Oleh karena itu, keberhasilan penanganan perlengketan usus sangat bertumpu pada sinergi antar-dokter spesialis yang menangani pasien.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles