Kolaborasi rumah produksi Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator menghasilkan Operasi Pesta Copet yang tayang di bioskop Tanah Air mulai Kamis, 27 Agustus 2026.
Dibintangi Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Kawai Labiba, dan Zulfa Maharanid, Operasi Pesta Copet menandai debut penyutradaraan Edy Khemod untuk film panjang. Naskahnya dipoles Edy Khemod bersama Rino Sarjono. Mengusung genre komedi, aksi, dan kriminal, berikut sinopsis film Operasi Pesta Copet. Siapa tahu bisa jadi bekal Anda untuk menonton.
Tak ada hari apes dalam kalender namun sial yang menimpa hidup Ijal (Iqbaal Ramadhan) terasa bertubi-tubi. Selain fatherless, Ijal kecil dititipkan ibunya (Yeyen Lidya) kepada tante. Ibunya lantas menikah lagi lalu punya anak perempuan. Tak betah menumpang di rumah tante, Ijal mencoba hidup mandiri.
Apes datang lagi dalam bentuk PHK. Lelah miskin, Ijal bareng Adut (Kristo Immanuel) kerja serabutan. Lalu tercetus ide gila, nyopet di konser musik melibatkan sepupunya, Melodi (Kawai Labiba) dan Tia (Zulfa Maharani).
Konser musik yang disasar adalah Pestapora. Melodi yang memang suka musik melatih Ijal, Adut, dan Tia menyamar sebagai pencinta musik dari mengenal apa itu skena, moshing, hingga wall of death. Tujuannya, meyakinkan penyamaran sebagai penikmat musik sejati.
Beberapa pekan menuju Pestapora, Ijal dan kawan-kawan berlatih mencopet dalam konser berskala kecil seraya mempelajari situasi di tengah kerumunan orang. Maklum, target mereka untuk Pestapora tak main-main yakni nyopet 100 ponsel per hari.
Padahal, Pestapora digelar selama tiga hari. Jika dikonversi ke dalam rupiah, setidaknya empat sekawan tersebut membawa pulang Rp600 juta. Per orang akan beroleh Rp150 juta.
Ijal, Adut, Tia, dan Melodi punya rencana indah andai Rp150 juta itu ada dalam genggaman. Masalahnya, Pestapora bukan ajang musik “kemarin sore.” Standar keamanannya superketat.
Lewat video yang diunggah di akun Instagram terverifikasi, Kamis (27/8/2026), produser Ernest Prakasa menyebut, ide Operasi Pesta Copet digagas sejak 2023 lewat brainstorming. Riset dilakukan tahun 2024, dan syuting setahun kemudian.
“(Tahun) 2026 tayang di tengah kondisi yang tidak baik-baik saja. Kita baru saja melewati gempa bumi, masih recovering, di sana masih butuh bantuan. Kebakaran hutan, dan hari ini ada demonstrasi di Jakarta,” beri tahunya.
Lebih lanjut Ernest Prakasa memaparkan, dari awal, Edy Khemod punya visi membuat film tentang kemiskinan struktural. Sesuatu yang sebenarnya mirroring dengan situasi Indonesia sekarang.
“Jadi sebenarnya paradoks banget, filmnya mencerminkan situasi saat ini tapi situasi saat ini juga yang bikin ngomongin film rasanya enggak pas. Cukup unik situasinya buat gue,” ujar Ernest Prakasa.






