Indonesia tengah memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Di tengah proyeksi nilai ekonomi digital yang dapat mencapai USD180 miliar hingga USD340 miliar pada akhir dekade ini, adopsi AI Indonesia juga menunjukkan momentum besar dengan sekitar 80 persen pengguna memanfaatkan berbagai tools berbasis AI setiap hari.
Selain itu, perkembangan agentic AI semakin mempercepat perubahan tersebut. Tingkat adopsinya telah mencapai 42 persen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga organisasi perlu memastikan bahwa pertumbuhan teknologi tersebut tidak justru membuat mereka kehilangan kendali atas fondasi data dan arsitektur AI.
Namun, banyak strategi AI perusahaan masih terlalu berfokus pada lapisan model dan tool generatif. Padahal, AI tidak hanya dimulai dari sebuah prompt, melainkan dibangun dari model, data, arsitektur, serta tata kelola atau governance yang menjadi fondasi utama sistem.
Ketika fondasi tersebut terkonsentrasi, tertutup, dan sulit diakses, organisasi berisiko menghadapi persoalan yang lebih besar. Karena itu, open source menjadi salah satu pendekatan penting untuk mencegah vendor lock-in atau ketergantungan pada satu penyedia teknologi sekaligus membuka ruang inovasi melalui ekosistem yang lebih demokratis.
Tiga Pilar Strategis untuk Adopsi AI Indonesia
Selanjutnya, organisasi yang ingin membangun sistem AI kelas enterprise membutuhkan tiga pilar utama, yaitu interoperabilitas, kedaulatan digital, dan Private AI. Ketiganya menjadi fondasi agar teknologi AI tidak sekadar terlihat canggih dalam demonstrasi, tetapi juga mampu beroperasi secara andal dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Interoperabilitas memberikan kebebasan kepada organisasi untuk mengganti satu komponen teknologi tanpa harus merombak keseluruhan sistem. Contohnya terlihat pada platform SATUSEHAT yang mengintegrasikan data kesehatan dari klinik, rumah sakit, hingga Puskesmas dalam satu ekosistem digital nasional melalui prinsip interoperabilitas.
Baca Juga: Jangan Terlalu Pede! Pengguna Mac Kini Jadi Incaran Empuk Kejahatan Siber Daring
Di sisi lain, kedaulatan digital semakin penting karena AI kini menjadi bagian dari berbagai sektor strategis, mulai dari administrasi publik, layanan kesehatan, pendidikan, pertahanan, hingga keuangan. Di Indonesia, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan peraturan OJK mengenai residensi data turut mendorong organisasi untuk lebih berhati-hati dalam mengelola data sensitif.
Sementara itu, ketergantungan penuh pada public cloud eksternal atau platform proprietary yang tertutup dapat menimbulkan risiko operasional. Penyedia layanan dapat mengubah harga token, ketentuan lisensi, dukungan terhadap model AI, maupun syarat layanan, sedangkan dinamika geopolitik dan regulasi juga berpotensi membatasi akses teknologi dalam waktu singkat.
Private AI dan Masa Depan Teknologi yang Lebih Mandiri
Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan pendekatan Private AI untuk memanfaatkan data proprietary tanpa mengorbankan kekayaan intelektual. Framework ini mendorong perusahaan membawa komputasi langsung ke data yang sudah terkelola sehingga keamanan, akses identitas, dan data lineage dapat dikendalikan sepanjang lifecycle.
Pada akhirnya, interoperabilitas, kedaulatan digital, dan Private AI menjadi tiga pilar yang saling melengkapi dalam membangun fondasi AI yang berkelanjutan. Kontribusi terhadap lebih dari 30 proyek open source serta pengembangan platform true hybrid berbasis standar open data seperti Apache Iceberg juga menjadi bagian dari upaya membangun infrastruktur AI yang fleksibel dan portable.
Dengan membangun strategi AI melalui arsitektur hybrid yang fleksibel, arsitektur data terbuka, dan kendali penuh, organisasi dapat menciptakan fondasi teknologi yang lebih skalabel sekaligus meminimalkan risiko. Karena itu, open source tidak hanya berpotensi membuat AI lebih terjangkau, tetapi juga lebih terbuka, adaptif, relevan dengan kebutuhan lokal, dan layak dipercaya.






