Erupsi aktif Gunung Anak Krakatau yang melontarkan material vulkanik tajam ke atmosfer memicu ancaman serius bagi saluran pernapasan kelompok usia rentan. Pasalnya, serbuan partikel silika mikro ini melipatgandakan risiko radang paru serta iritasi selaput lendir akibat paparan abu vulkanik pada anak secara masif.
Dokter spesialis anak terkemuka, dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, M.Kes, langsung membunyikan alarm peringatan kepada jutaan orang tua di seluruh Tanah Air. Selain itu, dokter lulusan spesialis anak ini mengimbau publik agar tidak menyamakan abu letusan gunung dengan polusi debu jalanan biasa.
Masyarakat kerap mengandalkan masker medis sebagai benteng pertahanan utama tanpa membatasi mobilitas buah hati mereka di luar ruangan. Padahal, partikel abu vulkanis berukuran mikro tetap leluasa menyusup ke alveolus paru jika anak berkeliaran bebas di tengah hujan abu.
Bahaya Abu Vulkanik pada Anak dan Mitos Masker Pelindung
Melalui platform media sosial resminya @ardisantoso yang diikuti lebih dari 1,2 juta pengikut, sang dokter mendesak para orang tua memprioritaskan isolasi fisik di rumah. Oleh karena itu, langkah mitigasi paling efektif untuk menjaga kesehatan respirasi anak adalah memutus rantai kontak fisik dari udara luar.
“Masker itu bukan untuk melindungi utama, itu perlindungan tambahan. Jadi tidak cukup dengan masker. Perlindungan utama anak dari abu vulkanik adalah menghindari paparan, sekali lagi ya, menghindari paparan,” bukanya dalam laman media sosialnya @ardisantoso.
Panduan Medis Merawat Mata dan Kulit Sensitif
Dokter Ardi mewajibkan anak mengenakan pakaian serbapanjang serta kacamata pelindung jika terpaksa keluar rumah dalam kondisi mendesak. Selanjutnya, praktisi kesehatan ini melarang keras tindakan mengucek indra penglihatan yang terkena abu guna mencegah abrasi kornea akut.
“Kalau kena debu, jangan dikucek. Bilas dengan air bersih. Mata sangat merah atau nyeri, penglihatan terganggu, segera periksa ke dokter mata,” ungkap dokter yang punya 1.2 juta follower ini.
Pengamanan Pasokan Air dan Imbauan Meliburkan Sekolah
Kontaminasi material abu letusan tidak hanya merusak sistem pernapasan, tetapi juga mengancam higienitas sumber air konsumsi keluarga. Di sisi lain, sisa debu yang menempel pada bahan pangan mentah berpotensi memicu infeksi saluran pencernaan akut jika tertelan oleh balita.
“Gunakan sumber air yang bersih. Dan jangan lupa cuci semua buah, sayur, makanan menggunakan air yang bersih yang terkena abu tadi. Ya, dan kalau masih terus hujan, terus hujan abu, jangan paksa anak sekolah hanya karena sudah pakai masker,” jelasnya.
Kewaspadaan ekstra dalam menutup ventilasi rumah, membersihkan pasokan air, serta menunda aktivitas luar ruangan menjadi kunci meminimalkan dampak abu vulkanik pada anak. Oleh sebab itu, orang tua wajib menahan anak tetap berada di area dalam rumah sampai otoritas vulkanologi menyatakan kondisi udara benar-benar steril.






