Riset medis Fakultas Kedokteran Universitas Chulalongkorn Thailand baru saja merilis temuan mutakhir mengenai faktor penentu kesuburan pria. Pasalnya, studi ilmiah yang mengamati 116 responden di RS Memorial Raja Chulalongkorn tersebut membuktikan korelasi unik antara kebiasaan memilih celana dalam harian dengan mutu air mani.
Para peneliti mencatat sebanyak 93,1 persen partisipan terbiasa mengenakan celana dalam ketat saat beraktivitas siang hari. Sementara itu, sekitar 74,1 persen pria memilih memakai celana boxer longgar atau bahkan tidur tanpa pakaian dalam demi kenyamanan.
Pemeriksaan laboratorium reproduksi ini menerapkan panduan standar edisi keenam dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Alhasil, tim medis menemukan anomali menarik antara volume cairan ejakulasi dan struktur fisik spermatozoa para responden.
Lonjakan Volume Semen vs Bentuk Morfologi Sperma
Pria yang konsisten mengenakan celana dalam longgar pada siang dan malam hari sukses memproduksi volume semen lebih banyak dengan keunggulan 1,2 mililiter. Di sisi lain, kelompok pemakai celana ketat justru memperlihatkan persentase morfologi sperma normal yang sedikit lebih unggul sekitar setengah persen.
Data empiris tersebut mematahkan pandangan awam yang langsung menuding celana ketat sebagai biang keladi kemandulan. Oleh karena itu, para akademisi memandang model pakaian dalam semata-mata sebagai faktor gaya hidup penunjang, bukan penentu tunggal mutu spermatozoa.
Misteri Suhu Skrotum dan Kaitan Biologis Kesuburan Pria
Secara anatomi biologis, testis menggantung di luar rongga tubuh karena organ vital ini memerlukan suhu lebih rendah untuk memproses benih sel reproduksi. Pasalnya, lonjakan hawa panas berlebih di sekitar area skrotum secara teori memang dapat mengganggu efektivitas spermatogenesis alami.
Namun, kalangan medis belum menemukan bukti konklusif apakah fluktuasi temperatur akibat celana ketat bertahan cukup lama hingga merusak sistem reproduksi. Selain itu, kebiasaan duduk berjam-jam saat bekerja serta tingkat mobilitas fisik harian turut memengaruhi suhu skrotum secara signifikan.
BACA JUGA: Detik-Detik Ari Lasso Naik Pesawat Pecah Ban, Puji Ketangkasan Pilot Garuda GA604
Masyarakat urban juga kerap keliru menafsirkan volume cairan semen sebagai tolok ukur utama jumlah populasi sel sperma. Padahal, kelenjar vesikula seminalis dan prostat memproduksi cairan ejakulasi tersebut secara mandiri dengan pengaruh kuat dari tingkat hidrasi tubuh.
Faktor Gaya Hidup Krusial Penentu Kualitas Sperma
Kajian medis di jurnal kenamaan The Lancet puluhan tahun lalu memang pernah mengaitkan penggunaan celana boxer dengan konsentrasi sperma yang lebih tinggi. Kendati demikian, riset mutakhir Universitas Chulalongkorn menegaskan bahwa model pakaian dalam sama sekali tidak memicu kerusakan fragmentasi DNA sperma.
Faktor risiko seperti kebiasaan merokok, minuman beralkohol, obesitas, kelainan varikokel, hingga usia justru memegang dampak lebih fatal bagi kesuburan pria. Oleh sebab itu, segera konsultasikan kondisi fisik Anda ke dokter spesialis urologi atau andrologi guna mendapatkan penanganan klinis yang akurat.






