Kali pertama Tissa Biani diperkenalkan sebagai Nirmala dalam film Oki dan Nirmala pada 2022. Empat tahun berselang, pihak Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment merilis formasi lengkap pemain dan sutradara, yakni Hanung Bramantyo.
Publik bertanya-tanya, apa yang membuat proses persiapan produksi film Oki dan Nirmala sangat lama. Ini perkara bujet produksi, mencari pemain, melobi sutradara, atau menggodok skrip.
Mengingat, mengalihwahanakan cerita dari majalah menjadi skenario film bukan perkara mudah.
“Semuanya. Bikin apa ya, butuh waktu dan proses. Mulai dari merancang skala produksi, cari sutradara, cari casting, cari Oki-nya. Wah, skalanya pusing deh kepalanya,” cetus produser Andi Budiman kepada awak media di Jakarta Selatan, Sabtu (22/8/2026).
Mengembangkan cerita anak-anak yang bagus dan relevan untuk semua umur memang tak mudah. Dibutuhkan riset mendalam termasuk menentukan visual seperti apa yang akan disajikan di layar lebar. Ini terkait erat dengan tata artistik, desain produksi, kostum, rias wajah, dan rambut.
“Bahkan di proses development, saat ini yang akan disyuting itu draft ke-22. Pekerjaan yang sangat panjang dan persiapan luar biasa. One of the most… persiapan paling panjang, intensif yang kita siapin untuk film di Paragon,” produser Robert Ronny menambahkan.
Ia lalu berbagi cerita di balik terpilihnya aktor cilik Azzamy Syauqi sebagai Oki. Ada ratusan anak yang diaudisi hingga akhirnya mengerucut pada dua nama, salah satunya Azzamy Syauqi. Setelah melewati proses seleksi dan uji chemistry, Azzamy Syauqi terpilih.
Karakter Oki sangat krusial. Tak harus mencari aktor cilik terkenal, yang penting paham karakter dan aksi reaksi dengan lawan main, dalam hal ini Tissa Biani pemeran Nirmala. Uniknya, Tissa Biani dan Azzamy Syauqi berzodiak Leo.
Saat tersisa dua calon pemain Oki, Hanung Bramantyo mencetus ide menghadapkan mereka dengan Tissa Biani. “Kita coba chemistry-nya paling nyambung sama Tissa gimana? Karena Oki dan Nirmala ini satu kesatuan,” Robert Ronny membeberkan.
“Begitu kita gabungkan, akhirnya matching (Tissa dan Azzamy). Kami di Paragon selalu berkomitmen kalau bisa tiap produksi selalu ada pemain baru. Ini sumbangsih kita untuk regenerasi aktor,” paparnya, panjang.
Hanung Bramantyo menjanjikan, Oki dan Nirmala menyajikan konflik yang dekat sekaligus melokal. Penonton lintas generasi akan terkoneksi dengan tokoh-tokoh dari negeri dongeng yang dulu muncul di tiap edisi majalah Bobo.
Gen Z atau Gen Alpha bisa jadi kurang related dengan majalah. Gap generation itu jadi catatan buat Hanung Bramantyo. Film Oki dan Nirmala hadir untuk menjembatani gap generation, menghubungkan generasi zaman now dengan majalah.
Baginya, film anak dan keluarga bukan hal baru. Tahun ini, Hanung Bramantyo merilis Children of Heaven yang meraih sejuta penonton. “Di awal karier, saya menggarap film anak-anak Gelas-Gelas Berdenting tahun 2001,” pungkasnya.






