Satu lagi film horor berbasis urband legend lokal diproduksi dan siap tayang di bioskop Tanah Air mulai 17 September 2026. Judulnya, Urang Bunian. Dibintangi Dimas Aditya, Naura Hakim, hingga Adinda Thomas, film ini digarap sineas Rendy Herpy di bawah naungan rumah produksi DHF bersama RH Entertainment.
Dalam Urang Bunian, Naura Hakim sebagai Nurmala. Bintang film Mencuri Raden Saleh dan Home Sweet Loan mengaku ada banyak tantangan selama syuting Urang Bunian. Pertama, logat. Kedua, adegan mandi.
Naura Hakim menguak, syuting film Urang Bunian dilakukan selama 10 hari. Tujuh hari di Jakarta, sisanya di Bukittinggi, Sumatra Barat. Urang Bunian urban legend dari masyarakat Sumatra Barat. Di sinilah tantangannya.
“Aku enggak tahu logat Padang sama sekali seperti apa. Pas aku tahu ternyata, kayak ada cengkok-cengkoknya. Jadi susah, susah banget sih. Aku lihat referensinya lebih ke cara berbicara,” katanya kepada awak media dalam konferensi pers di Jakarta, pada Senin (10/8/2026).
Nurmala adalah gadis desa. Naura Hakim pun harus tahu cara mempresentasikan gadis desa dengan logat Padang yang kental. Karena belum pernah memerankan orang Padang, ia kerap kepikiran. Tiap selesai syuting sebuah adegan, Naura Hakim selalu tanya ke sutradara apakah logatnya sudah pas.
Ia khawatir logat Padangnya terdengar dipaksakan. “Sama kayak ada orang bilang, ‘Kenapa enggak mengambil orang Padang asli saja?’ Itu tantangan buat aku. Somehow aku senang karena bisa belajar bahasa baru,” beri tahu Naura Hakim.
Mandi di Hutan Ditutupi Bambu
Satu lagi tantangan sekaligus momen tak terlupakan yakni mandi di hutan jam 3 dini hari. Sebagai seniman profesional, Naura Hakim menjawab tantangan adegan di kamar mandi berdinding bambu.
“Jam 3 pagi. Itu dingin banget dan aku biasa mandinya (pakai air) hangat, karena aku takut dingin. Itu tiba-tiba langsung dari kayak bambu. Terus di bambu-bambu gitu, cuma ditutupi bambu,” kenangnya.
“Itu take lumayan lama karena ada dua atau beberapa POV. Jujur dingin, terus kalau kalian lihat tadi ada yang pas aku lagi minum, itu kita take berapa kali gara-gara aku gemetaran. Saking kedinginan,” Naura Hakim menambahkan.
Sementara itu, bagi Rendy Herpy, Urang Bunian bukan hal baru. Ia telah mendengar urban legend ini sejak kecil. Menggarap film Urang Bunian dianggap Rendy Herpy peluang untuk menjawab rasa penasaran yang muncul sejak masa kanak-kanak.
DHF adalah mitra yang pas. Rumah produksi ini telah melahirkan dua film horor berbasis urban legend yang sukses di pasar. Pertama, Saranjana: Kota Ghaib (1,2 jutaan penonton). Kedua, Kuyank yang juga memanen 1,2 jutaan penonton.
“Saya tahu DHF suka membuat film urban legend. Jadi, pas saya tawarkan cerita ini mereka tertarik. Sebelumnya kita riset dulu. Saya orang Sumatra, jadi Urang Bunian itu sudah saya tahu, termasuk mitos-mitosnya,” ungkap Rendy Herpy.






