Kehamilan tidak hanya membawa perubahan pada bentuk tubuh, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik dan emosional ibu. Salah satu perubahan yang cukup sering dialami adalah meningkatnya gairah seksual selama masa kehamilan.
Kondisi tersebut kerap membuat sebagian ibu hamil merasa heran. Padahal, dari sisi medis, peningkatan hasrat seksual saat hamil merupakan hal yang normal dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor di dalam tubuh.
Salah satu penyebab utamanya ialah meningkatnya volume darah selama kehamilan. Secara umum, volume darah ibu hamil dapat bertambah sekitar 30 hingga 50 persen sehingga aliran darah ke area panggul dan organ intim menjadi lebih lancar.
Peningkatan aliran darah tersebut membuat area intim menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan. Dampaknya, sebagian ibu hamil merasakan gairah seksual yang lebih tinggi dibandingkan sebelum mengandung.
Selain perubahan fisik, faktor hormonal juga berperan penting. Perubahan kadar hormon selama kehamilan dapat memengaruhi suasana hati, emosi, hingga meningkatkan keinginan untuk lebih dekat dengan pasangan.
Kedekatan emosional yang terjalin selama menjalani proses kehamilan bersama juga menjadi faktor pendukung. Tidak sedikit pasangan yang merasa hubungan mereka semakin erat sehingga keintiman pun meningkat secara alami.
Menurut Yvonne K. Fulbright, PhD, dalam bukunya Your Orgasmic Pregnancy, kehamilan juga dapat membuat sensasi orgasme terasa lebih kuat dibandingkan biasanya.
“Kehamilan bisa bikin orgasme terasa lebih intens atau bahkan terjadi berkali-kali.”
Di sisi lain, banyak ibu hamil merasa lebih rileks ketika berhubungan intim. Mereka tidak lagi dibayangi kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya kehamilan sehingga dapat menikmati momen bersama pasangan dengan lebih nyaman.
Selama dokter atau bidan tidak memberikan larangan khusus, hubungan seksual saat hamil umumnya aman dilakukan. Ibu hamil hanya perlu memilih posisi yang nyaman dan tidak memberikan tekanan pada perut, terutama ketika usia kehamilan semakin besar.
dr. Marjorie Greenfield mengatakan, “Kalau seks enggak menyakiti kamu, berarti enggak akan menyakiti bayi”.
Meski demikian, ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu hamil menghindari hubungan seksual, seperti plasenta previa, serviks lemah, menjalani bed rest, atau setelah air ketuban pecah karena dapat meningkatkan risiko infeksi. Jika memiliki kondisi kehamilan tertentu atau masih ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau bidan agar aktivitas selama kehamilan tetap aman.





