Dunia hiburan Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok legendarisnya. Aktor senior Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (3/8) pagi dalam usia 76 tahun.
Kabar duka tersebut pertama kali dikonfirmasi oleh putra almarhum, Wira. Sementara itu, keluarga juga telah menyiapkan proses pemakaman yang berlangsung pada hari yang sama.
“Iya bokap meninggal,” tulis Wira lewat pesan singkat WhatsApp kepada wartawan, Senin.
Diding Boneng, yang memiliki nama asli Zainal Abidin, dikenal sebagai salah satu aktor komedi paling ikonik di Indonesia. Selain itu, wajahnya sangat lekat dengan berbagai film komedi populer pada era 1980-an dan 1990-an.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, aktor kelahiran Jakarta, 3 Maret 1950, itu sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit kawasan Tangerang. Kondisinya menurun setelah penyakit asma yang lama dideritanya kembali kambuh.
“Iya pemakaman Menteng Pulo, habis Ashar,” tulis Wira lagi.
Perjalanan Karier dari Dunia Teater
Karier seni Diding Boneng bermula dari panggung teater pada 1973. Saat itu, ia aktif mendirikan dan membina kelompok teater remaja sekaligus meraih berbagai penghargaan dari sejumlah festival.
Pengalaman panjang di dunia teater kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Berkat kemampuannya mengolah karakter, ia mampu bertahan di industri hiburan selama lebih dari lima dekade.
Pada 1980, Diding memulai kiprah di layar lebar melalui film Tiga Dara Mencari Cinta. Namun, namanya mulai dikenal luas setelah membintangi serial televisi Rumah Masa Depan yang tayang pada 1983 hingga 1986.
Nama Boneng Melekat di Hati Penonton
Dalam serial tersebut, ia memerankan karakter Boneng yang begitu melekat di benak penonton. Karena itu, publik akhirnya lebih mengenalnya dengan nama Diding Boneng dibandingkan nama aslinya.
Popularitas Diding Boneng semakin melesat ketika ia tampil dalam sejumlah film bersama grup lawak Warkop DKI. Meski kerap hadir sebagai pemeran pendukung, karakternya selalu berhasil mencuri perhatian penonton.
Ciri khas gigi tonggos yang dimilikinya bahkan menjadi identitas kuat sepanjang kariernya. Alih-alih menjadi kekurangan, karakteristik tersebut justru membuat sosoknya mudah dikenali dan sulit dilupakan.
Tetap Mengajar Hingga Akhir Hayat
Beberapa film yang turut memperkuat namanya antara lain Godain Kita Dong, Lupa Aturan Main, Bebas Aturan Main, Bagi-Bagi Dong, hingga Pencet Sana Pencet Sini. Lewat film-film itu, Diding menjadi salah satu wajah yang identik dengan era keemasan komedi Indonesia.
Di luar dunia perfilman, ayah dari lima anak tersebut tetap aktif berkarya meski telah mengurangi aktivitas syuting. Bahkan setelah memutuskan berhenti menerima peran karena kondisi kesehatan, ia masih mengajar akting di sebuah sanggar di Tambun, Jawa Barat.





