Aktris kawakan Hollywood Susan Sarandon bela Palestina secara gigih. Sikap tersebut membuatnya harus kehilangan sederet tawaran pekerjaan di industri perfilman global. Bintang peraih Piala Oscar berusia 79 tahun itu mengungkap realitas boikot saat mempromosikan film terbarunya.
Momen tersebut berlangsung dalam ajang Venice Film Festival 2026 di Italia.
Melansir laporan The Guardian pada Rabu (8/9/2026), sang pesohor membeberkan tekanan yang ia hadapi. Agensi tertentu melarang para produser untuk mempekerjakannya di berbagai proyek layar lebar.
Pasalnya, struktur kekuasaan di Hollywood masih menutup pintu bagi para figur publik. Terutama mereka yang lantang menyuarakan keadilan bagi warga Gaza.
Kendati menghadapi penolakan keras dari lingkaran elit industri sinema, pemeran film legendaris Thelma & Louise ini tetap mendapat sambutan hangat dari masyarakat dunia.
Keberanian Susan Sarandon Bela Palestina dan Realitas Studio Besar
Ibu tiga anak ini menegaskan bahwa intimidasi semacam ini tidak hanya menyasar dirinya secara personal. Perlakuan serupa juga menimpa para pekerja seni lain yang pro-Palestina.
Oleh karena itu, Susan menyoroti jurang perbedaan antara perlakuan studio raksasa dan rumah produksi independen.
“Jadi, semua tergantung apakah itu studio besar atau bukan. Saya rasa hal ini tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga orang lain yang diberitahu bahwa mereka tidak mungkin bisa terlibat dalam proyek film tersebut,” ucap Susan.
Solidaritas Andrea Pallaoro Menembus Intimidasi
Di tengah kepungan boikot tersebut, sutradara asal Italia Andrea Pallaoro menunjukkan integritas luar biasa. Ia tetap memercayakan peran utama kepada Susan Sarandon.
Alhasil, film The Echo Chamber sukses menembus kompetisi utama untuk memperebutkan penghargaan Golden Lion. Film tersebut mengadaptasi naskah peninggalan maestro Bernardo Bertolucci.
Pergeseran Empati Publik Melawan Cengkeraman Industri
Sang aktris mengamati lonjakan pemahaman di tengah masyarakat luas. Perubahan itu berkaitan dengan krisis kemanusiaan yang melanda Timur Tengah.
Namun, ia menyayangkan sikap para pemegang keputusan di industri perfilman. Mereka masih bergeming dan mempertahankan sentimen negatif terhadapnya.
“Saya melihat memang ada perubahan dari segi pemahaman publik terhadap situasi ini. Namun, di industri saya masih ada posisi-posisi berpengaruh yang dipegang teguh oleh kelompok Zionis, dan mereka belum melunakkan sikapnya terhadap saya,” pungkasnya.
Tekanan terhadap Susan Sarandon memuncak saat agensi bakat kenamaan United Talent Agency (UTA) mendepaknya secara sepihak pada akhir 2023.
Agensi tersebut mengambil keputusan itu usai sang aktris berorasi dalam demonstrasi pro-Palestina.
Sementara itu, rekam jejak mentereng sang bintang sebagai peraih Oscar lewat film Dead Man Walking (1996) membuktikan kapasitas aktingnya.






