spot_img

Top 5 This Week

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

250 Penari Muda Hidupkan Budaya Nusantara di Panggung GROWTH

Lebih dari 250 penari muda memenuhi panggung Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, lewat pertunjukan kolosal bertajuk GROWTH. Pementasan ini menjadi perayaan ulang tahun ke-13 RAFA International Dance School yang digelar pada Sabtu (18/7).

GROWTH tidak hanya menampilkan gerakan tari secara massal, tetapi juga membawa cerita tentang proses seseorang menemukan jati diri melalui warisan budaya. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam 27 tarian yang menggabungkan tradisi Nusantara dengan sentuhan seni pertunjukan modern.

“Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. RAFA tumbuh karena setiap siswa, setiap orang tua, dan setiap guru yang percaya bahwa seni bukan sekadar keterampilan – melainkan cara membentuk karakter. GROWTH adalah cermin dari perjalanan itu,” ucap Ms. Nevine saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).

Pementasan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara RAFA International Dance School dan Yayasan Raya Budaya Nusantara yang dipimpin Teuku Rassya. Keduanya ingin mendekatkan budaya Indonesia kepada generasi muda melalui kemasan pertunjukan yang lebih segar dan relevan.

“Kami percaya bahwa budaya adalah akar identitas bangsa. Kolaborasi dengan RAFA adalah wujud nyata dari keyakinan itu – bahwa pelestarian budaya paling efektif terjadi ketika ia hidup di diri generasi muda, bukan hanya tersimpan di arsip,” kata Teuku Rassya.

Para penari membawakan sejumlah tarian daerah seperti Tari Gantar, Jaipong, hingga Tari Piring dengan koreografi yang berpadu dengan jazz, hip-hop, dan balet kontemporer. Kehadiran pohon besar di tengah panggung turut memperkuat simbol perjalanan hidup dan proses manusia untuk terus bertumbuh.

Kepala Program RAFA, Felicia Citra, mengakui bahwa menyusun 27 tarian dengan melibatkan 250 penari menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia ingin para siswa tidak sekadar menghafal gerakan, melainkan memahami makna dari tarian yang mereka bawakan.

“Ya tantangan terbesarnya sebenarnya bukan cuma nyusun koreografi ya, di kali ini kita ada 27 tarian dengan 250 penari. Selain hanya selain koreografi, kita juga kepengin anak-anak nih bukan cuma nari, tapi mereka memahami bener nih tariannya,” tutur Miss Citra.

Pesan tentang tarik-menarik antara budaya tradisional dan kehidupan modern juga muncul melalui karakter Rafa Besar yang diperankan Kirana. Penari yang telah bergabung dengan RAFA sejak berusia empat tahun itu merasa pengalaman karakternya dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.

“Oke aku tuh merasa relate banget sama Rafa, makanya aku juga suka banget sama karakter si Rafa ini karena kita kan juga sudah di masa modern dan nilai-nilai tradisional kita tuh kan sudah mulai menghilang. Dan kadang aku juga kayak suka stuck in between FOMO ngikutin teman-teman yang sudah modern banget sama aku juga masih kadang suka dulu kecil tuh main permainan-permainan tradisional,” ungkap Kirana.

Sementara itu, Syakura dipercaya memerankan Rafa Kecil dan tampil dalam adegan permainan tradisional Cublak-cublak Suweng. Siswa sekolah dasar tersebut menjalani latihan selama dua bulan setelah melewati proses audisi yang menguji kemampuan menari jazz, kontemporer, serta akting.

“Ya karena bisa berperan jadi karakter utama,” kata Syakura.

“Pokoknya semuanya seru banget,” ujarnya.

Miss Tiara dari Yayasan Raya Budaya Nusantara menilai seni pertunjukan dapat menjadi cara efektif untuk menjaga nilai-nilai budaya tetap dekat dengan generasi muda. Ia berharap budaya Indonesia tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat.

“Kita itu lahir dengan nilai-nilai, nilai-nilai luhur yang kita belajar dari lingkungan dan orang tua kita. Dan kita sebagai orang Indonesia kita harus bangga dengan nilai-nilai itu,” ujar Miss Tiara.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles