spot_img

Top 5 This Week

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Riset Kaspersky Sebut Gen Z Rawan Kena Serangan Siber

Generasi Z terbukti menghabiskan lebih banyak waktu berselancar di dunia maya daripada beraktivitas offline. Namun, intensitas tinggi tersebut rupanya belum diimbangi dengan kebiasaan menjaga keamanan data pribadi.

Laporan riset Kaspersky terhadap 7.200 responden menunjukkan bahwa 52 persen Gen Z pernah diretas. Akibatnya, insiden pembajakan akun media sosial hingga akun game menjadi kasus paling sering terjadi.

Kesenjangan Percaya Diri dan Keterampilan Digital

Selanjutnya, sebanyak 59 persen Gen Z memang merasa sangat percaya diri saat mengakses jaringan internet. Kendati demikian, hanya 28 persen yang benar-benar menguasai kemampuan keamanan siber tingkat lanjut.

Bahkan, baru 27 persen responden yang rutin memasang aplikasi antivirus pada perangkat smartphone mereka. Di samping itu, mayoritas anak muda juga tergolong sangat jarang mengganti kata sandi akun.

“Generasi Z tumbuh di dunia online, sehingga layanan digital sering kali terasa intuitif dan akrab bagi mereka,” ujar Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen Kaspersky, Irina Ermilova.

“Namun, keakraban tidak boleh disamakan dengan keahlian keamanan. Mampu menggunakan aplikasi, platform, dan perangkat dengan percaya diri tidak selalu berarti mampu mengenali penipuan, mengelola kata sandi dengan aman, atau melindungi data pribadi,” lanjut Irina Ermilova.

Ancaman Peretasan Data Sensitif Smartphone

Lantas, lemahnya proteksi perangkat smartphone berisiko membuka akses peretas ke data finansial yang sensitif. Oleh sebab itu, Kaspersky merekomendasikan penggunaan pengelola kata sandi dan jaringan VPN publik.

Selain itu, hanya 28 persen Gen Z yang rajin mencadangkan dokumen penting di gawai mereka. Padahal, foto pribadi serta informasi login akun merupakan aset digital paling berharga bagi mereka.

Edukasi Interaktif Lewat Game Case 404

Demi meningkatkan kesadaran anak muda, Kaspersky meluncurkan game edukasi interaktif bernama Case 404. Melalui permainan ini, pemain dapat belajar mengenali ancaman phishing melalui simulasi kasus nyata.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan dan kebiasaan keamanan siber perlu menjadi bagian alami dari kehidupan digital sehari-hari seperti halnya berkirim pesan, bermain game, atau menggunakan media sosial,” tuturnya menekankan pentingnya proteksi siber.

Kini, penerapan verifikasi dua langkah menjadi solusi praktis yang wajib dicoba oleh pengguna internet. Kesadaran proteksi diri diharapkan mampu membentengi Gen Z dari maraknya aksi kejahatan siber global.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles